Ada Dana Milyaran Untuk Perbaikan, Puluhan Bus Transmusi Ini Masih Dalam Kondisi Rusak - Bentara Sumatera Selatan

Sumsel Terkini

Ada Dana Milyaran Untuk Perbaikan, Puluhan Bus Transmusi Ini Masih Dalam Kondisi Rusak

Palembang - PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J) selaku pengelola Transmusi diketahui telah menggelontorkan anggaran sebesar Rp. 4,83 M untuk perawatan bis pada tahun anggaran 2019. Namun ironisnya, saat ini masih banyak bis yang ‘mangkrak’ di terminal Alang Alang Lebar.

Salah satu pegawai yang dibincangi saat awak media menyambangi pool bis Transmusi di Terminal Alang Alang Lebar pada Sabtu (20/6) mengatakan, kondisi bis yang ada saat ini mengalami sejumlah kerusakan sehingga tidak bisa beroperasi. Ia mengaku tak terdapat kerusakan besar pada bis-bis tersebut. Hanya saja, kalaupun bis mengalami kerusakan, akan segera diperbaiki di bengkel yang terdapat di kawasan terminal tersebut. “Ado bengkel dewek, kalau rusak berat (sparepart) dikanibal (diambil) dari bis lain yang rusak jugo,”ujarnya.
Ada Dana Milyaran Untuk Perbaikan, Puluhan Bus Transmusi Ini Masih Dalam Kondisi Rusak
Fakta di lapangan menunjukkan jika kondisi ini berbeda dengan nilai penganggaran yang dilaporkan oleh PT SP2J ke DPRD kota Palembang sebagai laporan pertanggung jawaban. Dimana didalamnya terdapat item seperti perbaikan besar dan overhaul (turun mesin) yang bernilai signifikan. “Kami karyawan ini menjalankan perintah. Kalau rusak mekanik yang urus. Kalau dak biso lagi, parker disitulah,”jelasnya kepada awak media. Ia menduga mobil yang belum diperbaiki tersebut masih menunggu sparepart yang mungkin sulit didapat.

Lain halnya dengan apa yang disampaikan oleh Dirut PT SP2J Ahmad Novan yang dibincangi Sabtu malam melalui sambungan telepon. Ia mengakui saat ini ada lebih dari 100 mobil Transmusi yang siap beroperasi. Kalau berdasarkan subsidi Pemkot berjumlah 80-an (yang siap beroperasi),”ujarnya. Ada beberapa alasan bis tersebut tidak beroperasi di tahun 2020 ini. 

Pertama, dijelaskan Novan adalah karena penyebaran pandemi Covid-19. Dimana aktifitas masyarakat berkurang drastis dari sebelumnya. Sampai saat ini baru 30-an unit bis yang dioperasikan. “Sekarang ini meski PSBB sudah berakhir, tapi penumpang masih sepi. (Ekonomi) masih belum stabil. Jadi (bis) kolar kilir sebagai kewajiban untuk melayani masyarakat,”jelasnya. Dengan kata lain, transmusi belum memberikan keuntungan signifikan dari sisi operasional. Belum lagi kota Palembang saat ini telah mendapatkan tambahan armada baru TemanBus yang merupakan sarana transportasi serupa transmusi, namun dikelola oleh perusahaan berbeda yaitu PT TMPJ untuk menjalankan hibah Kementerian Perhubungan.

PT TMPJ merupakan anak perusahan PT SP2J yang sengaja dibentuk untuk menerima hibah dari Kementerian Perhubungan ini. Menurut Novan, Direktur Operasional PT SP2J Antoni Rais, kini menjabat sebagai DIrektur PT TMPJ. “Jadi dia (Antoni) sudah lepas, tidak ada lagi jabatannya di SP2J,”ujarnya. 

Perbedaan mencolok dari TemanBus dan Transmusi adalah corak warna yang kekuningan dan bermotif songket. Belum lagi, TemanBus diakui lebih tepat waktu dan lebih terintegrasi dengan kelebihan di sisi navigasi dibandingkan Transmusi. Ada 45 bis untuk tiga koridor baru yang disediakan. Ini jelas membuat pendapatan transmusi, jelas semakin berkurang. “Program TemanBus ini kan program kementerian, dikelola anak perusahaan kita. Tujuannya untuk mengisi koridor yang kosong. Sekarang ini statusnya (bis yang dipakai TemanBis) dipinjamkan (oleh PT SP2J),”tambahnya.

Akan tetapi Novan berharap pandemi Covid-19 segera berakhir, seiring dengan aktifitas masyarakat sehingga Transmusi kembali menjadi pilihan. “Sekarnag ini, TemanBus 45 unit, kita (transmusi 30 Unit. Nanti, kalau sudah normal ada 80an bis lagi yang akan beroperasi untuk kota Palembang,”ungkapnya.

Dari data yang berhasil dihimpun, total anggaran tahun 2019 yang digelontorkan oleh PT SP2J untuk Transmusi sebesar Rp 4,83 Miliar, meliputi, biaya pembelian sparepart Rp 2,621 Miliar, biaya pembelian oli Rp 214 Juta, Pencucian BRT Rp 549 Juta, Overhaule Rp 76 juta, biaya perlengkapan BRT Rp 44 Juta, biaya vulkanisir ban BRT Rp 110 Juta, perlengkapan mekanik Rp 56 juta, dan biaya Ban BRT sebesar Rp 1,84 Miliar.

Sumber: Sumeks

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membaca...